SIAPAKAH YANG PANTAS DISEBUT KADER DAKWAH??
Ketika kita berbicara mengenai siapakah kader dakwah, maka hal ini sangat berkaiatan erat dengan muashafat kader. Beberapa karakteristik (muashafat) yang selama ini dibahas dan dijadikan sebagai lembaran tugas dalam beberapa pelatihan, seharusnya dimiliki oleh kader dakwah antara lain;
• Aqidah yang selamat (salimul aqidah)
• Ibadah yang shahih (shahihul ibadah)
• Akhlaq yang kokoh (matinul khuluq)
• Jasad yang kuat (qowiyyul jism)
• Wawasan yang luas (mutsaqaful fikr)
• Mampu berpenghasilan (qadirun ‘alal qasbi)
• Memanajemen waktu (harutsun ‘ala waqtihi)
• Teratur dalam urusan (munzam fi syu‘unihi)
• Bersungguh terhadap diri (mujahidu li nafsihi)
• Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un li ghairihi)
Beberapa poin di atas dijabarkan menjadi beberapa aplikasi nyata dalam kehidupan kader dakwah tersebut. Seperti yang tercantum dalam buku al Madkhal ila Da’wah al-Ikhwan al-Muslimin – Sa’id Hawa;
Hendaknya Anda mempunyai wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari 1 juz, dan bersungguh – sungguhlah mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan, dan tidak kurang dari tiga hari.
Baca dan simaklah Al-Qu’an dengan baik, dan renungkan artinya. Hendaknya Anda perbanyak membaca hadist Rasulullah SAW. paling kurang Anda hafal 40 buah hadist dari Kitab Ar Ba’in An Nabawiyah, dan baca pula buku – buku tentang pokok – pokok aqidah dan fiqh.
Perhatikan benar – benar sarana – sarana yang akan membuat badan Anda kuat, dan terlindung dari penyakit, dan jauhi hal – hal yang mengganggu kesehatan Anda.
Jauhi minum kopi yang berlebihan, juga teh dan jenis minuman yag memberi rangsangan. Jangan meminumnya kecuali terpaksa, dan jangan sekali – kali merokok.
Perhatikan kebersihan dalam segala hal, sebab Islam dibangun di atas kebersihan
Kata – kata Anda harus jujur, jangan pernah bohong
Tepati janji dan kata – kata Anda
Jadilah manusia pemberani dan tangguh dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Keberanian yang paling utama adalah mengungkapkan kebenaran, menjaga rahasia, mengakui kesalahan,berlaku adil kepada diri sendiri, dan mengendalikan diri saat marah.
Bersikaplah tenang, namun tidak perlu mencegahmu dari bercanda yang benar dan senyum
Milikilah sifat malu, perasaan sensitif yang positif, selalu merasakan kesenangan dengan kebaikan, serta merasa sedih dan derita dengan kejahatan. Bersikaplah rendah hati, tapi bukan hina, bukan tunduk (pada kejahatan), dan tidak dibuat – buat.
Berlakulah adil dalam segala kondisi. Tegakkan keberanian meskipun untuk diri Anda sendiri, atau kepada orang terdekat meskipun terasa pahit.
Hendaknya Anda terlatih mengunjungi, menghibur, dan memberi bantuan kepada yang lemah dan tertimpa musibah.
Hendaknya Anda memiliki hati yang penuh kasih, memaafkan, bersikap lembut dan penyantun dalam bermu’alamah dengan segenap manusia. Hendaknya Anda memperluas ilmu dan keterampilan Anda bila Anda seorang spesialis, agar Anda dapat mengajukan konsep Islam dan memaparkannya sesuai dengan tuntunan fikrah.
Senantiassa berusahalah dan menggeluti pekerjaan ekonomi yang bebas meskipun tampak kurang meyakinkan di mata orang lain.
Jangan terlalu berambisi menduduki jabatan pemerintahan, dan anggaplah ia pintu rezki paling sempit, namun jangan pula menolaknya dan mundur darinya kecuali bila benar – benar bertentangan dengan kewajiban da’wah.
Selalu berupaya menunaikan kewajiban Anda dengan sebaik – baiknya.
Tuntutlah hak Anda dengan baik dan tunaikan hak orang lain secara utuh.
Jauhi judi dengan segala macamnya, apapun tujuan di belakangnya
Jauhi riba dalam semua muamalah
Mengabdilah untuk kekayaan Islam secara umum dengan menggairahkan industri dan sumber – sumber ekonomi Islam, jangan sampai jatuh ke tangan orang – prang kafir bagaimanapun caranya.
Hendaknya Anda berpartisipasi dalam da’wah dengan sebagian harta
Menabunglah untuk kebutuhan insidentil, jangan terpesona dengan hal – hal yang komplementer
Berupayalah untuk menghidupkan kebiasaan Islam dan mematikan kebiasaaan non-Islam dengan selalu berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Putuskan hubungan dengan segala sesuatu yang mencoba menghentikan fikrah Islamiyah Anda.
Selalu merasakan muraqabah Allah
Perbaiki thaharah, shalat menunaikannya pada awal waktu dan berupaya untuk berjamaah
Berpuasa pada Ramadhan, dan ibadah haji bila mampu
Tamankan niat jihad da kecintaan untuk mati syahid.
Selalu perbaharui tobat dan mohon ampun kepada Allah. Sisihkan waktu untuk muhasabah
Berjuang dengan keras untuk memerangi hawa nafsu sehingga Anda dapat memgang kendalinya
Jauhi teman – teman yang suka berbuat jahat, kerusakan, serta semua tempat maksiat dan dosa.
Perangi tempat – tempat hura – hura, jangan mendekatinya.
Kenali dengan baik anggota Katibah Anda satu persatu, keanlkan dirimu kepada mereka dengan baik pula, beri mereka hak – hak persaudaraan seperti cinta, apresiasi, membantu, dan mendahulukan kepentingannya.
Hindari hubungan dengan lembaga atau jamaah mene pun yang tidak memberi mashlahat bagi fikrah Anda, khususnya bil;a Anda diperintah untuk itu.
Berusahalah untuk menyebarluaskan da’wah Anda di segala tempat, anggap diri Anda selalu sebagai tentara dalam satuan menanti perintah.
Pemaparan di atas adalah sebuah gambaran idealnya para kader – kader dakwah. Saat ini semua problem yang terjadi baik dalam dakwah kampus maupun lainnya bersumber pada individu – individu yang akan menjalankan dakwah itu sendiri.
Setidaknya pengetahuan telah sampai kepada kita. Hanya saja bagaiman sikap kita dalam mengamalkan kebaikan yang telah kita terima. Selamat mencoba, dan Semoga kita dapat tergolong ke dalam karakter kader dakwah sejati, dan dapat memberikan kontribusi terbaik dalam perjuangan dakwah ini. Amiin..
Read the rest of this entry »
Pemilu yang Memilukan..
Sungguh sangat memilukan kondisi demokrasi di Indonesia saat ini. Hal ini telah ditandai dengan diselenggarakannya sebuah “Pesta Demokrasi” pada tanggal 9 April 2009 lalu. Pemilu anggota legislatif yang lalu ini hanyalah salah satu tahapan dari proses berdemokrasi “ala Indonesia”, yang nanti akan disusul lagi dengan pemilihan Presiden & Wakil Presiden yang diperkirakan akan berlangsung dalam bulan Juli 2009 ini.
Begitu banyak masalah yang muncul dalam Pemilu legislatif kali ini. Masalah – masalah ini sudah mulai muncul sejak ditetapkannya Daftar Pemilih Tetap (DPT) hingga yang terakhir adalah kisruh dalam rekapitulasi hasil Pemilu baik di tingkat PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) hingga ke tingkat KPU Pusat. Berbagai reaksi pun muncul ke permukaan, dari aksi protes yang dilakukan perwakilan Parpol dalam penghitungan suara, bahkan sampai pada aksi boikot dari beberapa Parpol atas Pemilihan Presiden & Wakil Presiden ke depan.
Kecaman dan kritikan dari berbagi pihak telah memenuhi setiap media informasi dan begitu memekakkan telinga. Namun hal ini sepertinya tidak terlalu menganggu KPU sebagai pihak yang paling sering menjadi objek dari ketidakpuasan atas pelaksanaan Pemilu periode kali ini. KPU tetap saja bersikap tenang dan selalu menyatakan sikap optimis dalam setiap keterangannya di media massa. Tapi kita melihat masalah yang muncul dalam Pemilu kali ini memang bukan sesuatu hal yang kecil dan sederhana.
Jauh hari sebelum pelaksanaan Pemilu, KPU mengumumkan anggaran untuk Pemilu 2009, jumlah nilainya mencapai Rp. 14,12 trilyun. Menurut pejabat di KPU, anggaran itu termasuk untuk Pilpres, sebesar Rp. 9 trilyun. Karena prediksinya pilpres yang akan datang terjadi dua putaran. Jelas tidak sedikit anggaran yang harus dihabiskan dalam pelaksanaan Pemilu kali ini. Namun yang kita lihat ialah suatu hal yang cukup miris, ketika dana yang telah banyak dihabiskan tidak seimbang dengan hasil yang didapatkan. Mungkin inilah salah satu alasan dari pihak – pihak yang mengecam hasil dari Pemilu tersebut.
Dalam hal ini, kita harus bisa menilai secara adil. Posisikan diri kita pada kedua sisi yang saling memancarkan “sinyal negatif” ini. Ketika kita bicara dalam posisi kita sebagai masyarakat awam dan peserta Pemilu, maka kita dapat menilai kinerja KPU kali ini memang sangat kurang dari yang diharapkan dan tidak sebanding dengan anggaran negara yang telah dihabiskan. Kesalahan yang paling bodoh salah satunya ialah “nyasar”-nya logistik Pemilu tersebut. Kalaulah hanya dalam hal distribusi saja KPU sudah menunjukkan ketidakbecusannya, maka tidak heran jika dalam pendataan pun akan menjadi objek pembuktian kelalaian dari KPU ini, sebut saja masalah DPT dan rekapitulasi hasil nanti.
Bebeda halya ketika kita memposisikan diri kita sebagai pihak yang selalu dikecam, yakni KPU. Seperti yang kita ketahui, pihak yang paling keas menyuarakan kecamannya kepada KPU adalah partai – partai politik yang mendapatkan sedikit suara, atau setidaknya bukan pemenang dari Pemilu kali ini. Bahkan salah satu partai yang menjadi pelopor aksi memboikot Pilpres ialah sebuah partai kawakan dan cukup besar. Apa yang telah mereka lakukan dalam menyukseskan Pemilu kali ini? Mereka hanya bisa mengkritik dengan bahasa mengawasi tanpa berkontribusi dalam menyukseskan Pemilu kali ini, atau setidaknya kontribusi mereka hanyalah dengan menyukseskan partai masing – masing hingga mendapatkan suara dukungan sebanyak – banyaknya. Kita memang belum siap dengan kondisi Pemilu seperti sekarang ini, begitu banyak parpol peserta Pemilu, sistem yang semakin rumit (berdasarkan suara terbanyak), dan begitu banyak masalah lainnya. Lihatlah, aturan – aturan seperti ini dibuat oleh parpol itu sendiri dengan membuat Undang – Undang no. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Hal di atas bukan bermaksud untuk membela atau mengecam salah satu pihak. Kita hanya diminta untuk dapat memandang sesuatu secara adil dan objektif. Apakah masih pantas kita menyebut Pemilu kali ini dengan sebutan “Pesta Rakyat”? Ketika jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya hampir mencapai setengah persen dari jumlah pemilih yang seharusnya. Di antara orang – orang yang tidak menggunakan hak pilihnya ini lebih didominasi oleh orang – orang yang “Golput Administratif”, bukan golput karena keinginan atau ideologinya. Dalam hal ini terlihat bahwa sistem yang ada tidak dapat mengakomodasi orang – orang yang ingin menggunakan hak pilihnya.
Sekarang, kita harus dapat mengambil pelajaran dari Pemilu legislatif yang telah berlalu. Kita hanya perlu memberikan kesadaran berpolitik kepada masyarakat. Contohnya saja, ketika masyarakat sudah sadar akan haknya sebagai pemilih, maka mereka pun akan mengawasi dan menggunakan haknya tersebut. Kita masih punya kesempatan dalam Pemilihan Presiden & Wakil Presiden mendatang, maka gunakan dan awasi hak pilih Anda. Pilihan ada di tangan Anda, apakah Anda akan membiarkan kepemimpinan bangsa jatuh ke tangan yang salah, atau Anda akan memberikan kontribusi Anda dalam membangun Indonesia yang kita cintai ini. Read the rest of this entry »
Afwan ya Akhi / Ukhti…
Sebuah pemandangan yang cukup mengecewakan bagi panitia dalam sebuah acara besar, ketika para peserta dan tamu undangan dari acara tersebut satu per satu meninggalkan ruangan acara tersebut dengan ekspresi ketidakpuasannya pada acara tersebut. Entah kenapa, panitia yang berada di tempat pada waktu itu hanya beberapa orang saja, dari yang seharusnya berjumlah puluhan orang. Acara itu seharusnya telah dimulai, namun beberapa orang panitia itu masih terlihat mundar – mandir mendekorasi tempat, menghubungi pemateri, dan sibuk mencari orang yang siap untuk menjadi MC, dan moderator dalam acara ini, sementara ruangan tersebut telah dipenuhi para pesertanya.
Untuk tahap persiapan dan pelaksanaan acara tersebut, bisa dikatakan panitia itu gagal total. Hingga ketua panitia pun berinisiatif dengan mengadakan rapat evaluasi panitia. Dalam rapat itu dihadiri oleh semua panitia acara tersebut. Ketua panitia pun mencoba untuk meminta klarifikasi dari setiap anggotanya yang tidak hadir pada saat acara tersebut berlangsung. Satu per satu anggota panitia itu menyampaikan alasan – alasan atas ketidakhadirannya tersebut.
“Afwan akhi, ana harus menyelesaikan amanah ana yang lainnya…”, jawab seorang akhwat anggota panitia tersebut.
“Afwan banget ya, ana tidak bisa menyampaikan alasan ana. Insya Allah alasan ana syar’i koq..”, jawaban salah satu panitia ikhwan yang tidak hadir pada saat acara itu. Semuanya memberikan bermacam alasan, dan tidak lupa mengucapkan…
“Afwan ya akhi…”
Sepotong kalimat di atas mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para kader aktivis dakwah, terutama dalam interaksi para Aktivis Da’wah Kampus (ADK). Kalimat ini bisa dikatakan sebagai sebuah kalimat “pamungkas” yang senantiasa dibubuhi dalam setiap kalimat yang disampaikan seorang ADK. Tidak tanggung – tanggung, kalimat ini muncul sebagai pembuka kalimat pendapat seorang ADK dalam rapat – rapatnya, dalam SMS, bahkan kalimat ini begitu banyak menggaung dalam agenda – agenda yang Laporan Pertanggungjawaban suatu bidang dari suatu Lembaga Da’wah Kampus (LDK).
“Si Afwan itu yang mana orangnya bang?? Koq dari tadi disebut – sebut terus..??”, celetupan lugu dari seorang pemuda yang baru bergabung dalam suatu LDK tersebut kepada seorang seniornya. Inilah bentuk reaksi dari seorang ADK muda yang belum terlalu mengerti dengan budaya dari lingkungan ini. Biasanya, kalimat ini disampaikan oleh seseorang untuk menjaga kesantunannya dalam menyampaikan argumennya di dalam forum – forum para ADK.
Memang argumen yang dikemukakannya bertentangan dengan pendapat temannya dalam satu forum itu, tetapi dengan “dibumbui” dengan kalimat “Afwan sebelumnya akhi..” maka argumen yang disampaikannya itu akan terdengar lebih santun dan dapat diterima. Beginilah budaya bicara antara para ADK, ketika setiap orangnya selalu menjaga perasaan lawan bicaranya.
Suatu budaya yang perlu untuk dipertahankan. Namun yang menjadi masalah bagi saya ialah ketika kalimat “Afwan ya Akhi / Ukhti..” ini menjadi sebuah kalimat “pamungkas” dalam lingkup pekerjaan yang jelas – jelas menjadi tanggung jawabnya. Kalimat ini seolah – olah telah memberikan pembenaran pada seseorang untuk dapat memberikan jawaban yang benar dan melepaskannya dari tanggung jawab yang dipercayakan padanya.
Begitu cepat rasa bersalah itu berlalu. Hingga kesalahan dan kelalaian yang telah dilakukannya itu telah dibayar dengan kata “Maaf”. Inilah fenomena yang begitu sering terjadi dalam kinerja kita. Hasil kerja kita yang tidak optimal terkadang dianggap sebagai ujian dalam perjalanan da’wah ini. Tetapi kita jarang menelaah kesalahan dan kelalaian apa yang telah kita lakukan, hingga membuat hasil dari agenda – agenda da’wah yang kita usung tidak seperti yang kita harapkan.
Mari kita hilangkan budaya “Afwan ya Akhi / Ukhti..” saat bekerja dan berkarya dalam wilayah yang menjadi tanggung jawab kita. Amanah yang dipercayakan pada kita terlalu mahal jika hanya dibayar dengan sepotong kalimat ini. Bahkan kita harus membayar mahal atas kesalahan dan kelalaian yang kita lakukan terhadap amanah yang dipercayakan pada kita. Read the rest of this entry »
MANUSIA, UNTUK SEBUAH PERADABAN
Begitu banyak realita yang telah dihadapi bangsa ini. Baik itu suatu realita yang baik, maupun sebaliknya. Suatu babak baru dimulai di Indonesia pada masa tumbangnya rezim Orde Baru, hingga sekarang. Masa ini diawali dengan berdirinya gerakan Reformasi yang muncul di setiap pelosok negeri ini, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998. Suatu gerakan yang telah mewarnai sejarah bangsa ini dimotori oleh sebagian besar komponen masyarakat Indonesia yang menginginkan kebebasan, keadilan, dan kehidupan yang lebih baik.
Agenda Reformasi pun telah dikumandangkan; penegakan supremasi hukum, pemberantasan KKN, mengadili mantan Presiden Soeharto dan kroninya, amandemen konstitusi, pencabutan Dwifungsi TNI / Polri serta pemberian otonomi daerah seluas – luasnya. Suatu rancangan agenda perubahan yang luar biasa pada saat itu, telah disusun oleh rakyat Indonesia yang dibintangi oleh tokoh – tokoh muda pada masa itu. Begitu banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan negara ini. Semua orang berhak untuk menyuarakan pendapatnya, berhak untuk mengawasi jalannya pemerintahan, dan memperjuangkan tegaknya keadilan demi kehidupan yang lebih baik hingga para penguasa pun tidak dapat bertindak semaunya.
Sebagaimana kita ketahui, sejarah pemuda adalah sejarah heroik. Dalam setiap derap perubahan bangsa, peran pemuda selalu menonjol dan berada di garda depan. Pemuda telah menjadi pelopor pendirian bangsa. Momentum atau sejarah yang telah diisi oleh pemuda dengan tinta emas, antara lain, sejarah Kebangkitan Nasional, sejarah Sumpah Pemuda, sejarah Kemerdekaan Indonesia, hingga sejarah Reformasi ini.
Dimanakah para pemuda yang ditunggu itu…
Tidak semua di antara mereka yang hanya menjadi penonton yang baik atas segala fenomena yang terjadi, hanya bisa berteriak menyanggah sesuatu yang buruk, lalu bersembunyi begitu saja atas perbuatan sama yang dilakukannya.
Masih ada –walau bukan menjadi kaum yang mayoritas– pemuda yang rela mengorbankan fikirannya, tenaganya, bahkan keringat dan darahnya untuk sesuatu yang diyakininya, Indonesia akan menjadi tempat lahirnya orang – orang yang akan membangun sebuah peradaban baru, sebuah peradaban yang mampu memimpin dunia.
Sebagian orang memandang cita – cita ini hanyalah sebuah mission impossible. Memang suatu pandangan pesimistis atas kondisi yang dihadapi bangsa pada saat ini. Terlihat dari realita buruk yang telah terlalu sering menimpa bangsa ini. Kasus korupsi, dilakukan oleh orang – orang yang telah dipercayakan oleh rakyat untuk memperjuangkan nasib dan aspirasinya di dalam pemerintahan.
The right man on the right track…
Menurut saya, semua realita keterpurukan negeri ini hanya bersumber pada 2 hal saja; individu – individu yang menjalankan perannya sebagai komponen terkecil dari suatu masyarakat, dan sistem yang ada sebagai penghubung setiap individu tersebut dalam menjalankan perannya sebagai komponen dari masyarakat, bangsa, dan dunia. Maka dalam pembahasan kali ini saya lebih menitikberatkan sumber permasalahan pada individu saja, karena tanpa adanya individu, maka sistem yang telah disusun –sebaik apapun sistem itu- akan menjadi percuma. Namun apabila individu – individu telah ada, maka suatu sistem pun otomatis akan tumbuh dengan sendirinya, terlepas apakah sistem itu baik atau tidak.
Hari ini, saya melihat problematika ini sebagai suatu hal yang bersumber pada pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh setiap individu dalam fitrah-nya sebagai manusia. Telah begitu banyak fakta buruk -pemimpin yang semakin rakus merampas hak – hak rakyat jelata- yang terjadi dalam kehidupan bangsa ini. Kebanyakan hal itu dilakukan oleh orang – orang yang bisa disebut “orang berpendidikan”, “orang berpunya”, dan sebagainya. Bagi saya, masalahnya tak lain ialah krisis moral yang terjadi dalam diri masyarakat kita.